Popular Post

Sumberdaya Gas Alam – 2 : CBM

By : Rifalafka


Melanjutkan dongengan sebelumnya Sumberdaya Gas Alam – 1 dongengan berikut ini khusus untuk gas metan (CBM – Coal Bed Methane). Gas metan ini sedang menjadi sumberdaya alam baru non konvensional yang sudah mulai di eksplorasi di Indonesia.
Gambar dibawah ini merupakan sketsa ringkas bagaimana gas-gas itu berada.

Coal Bed Methane (CBM)

CBM saat ini sedang menjadi salah satu tumpuan harapan sebagai sumberdaya energi non konvensional. Di Idnonesia juga sudah mulai di eksplorasi dan diharapkan akan berproduksi dalam beberapa tahun kedepan.
Pematangan Batubara dan pembentukan gas metan (CBM)
Batubara adalah batuan yang kaya karbon berasal dari bahan tumbuhan (gambut) yang terakumulasi di rawa-rawa dan kemudian terkubur bersamaan dengan terjadinya proses-proses geologi yang terjadi. Dengan meningkatnya kedalaman penguburan, bahan tanaman mengalami pembatubaraan dengan kompaksi / pemampatan, melepaskan zat fluida (air, karbon dioksida, hidrokarbon ringan, termasuk metana) karena mulai berubah menjadi batubara. Dengan pembatubaraan dengan pendekatan yang sedang berlangsung, batubara menjadi semakin diperkaya dengan karbon dan terus mengusir zat terbang. Pembentukan metana dan hidrokarbon lain adalah hasil dari pematangan termal pada bara, dan mulai di sekitar “sub-bituminous A” untuk tahap tinggi mengandung bitumen “” peringkat C, dengan jumlah metan yang dihasilkan meningkat secara signifikan.
Batubara dangkal memiliki peringkat rendah dan mungkin belum menghasilkan metana dalam jumlah besar. Lebih dalam bara ini terkubur, maka akan mengalami tingkat pematangan yang lebih besar. Sehingga pembatubaraan tinggi akan menghasilkan kuantitas lebih banyak metan daripada batubara dangkal.
Beberapa metana dalam batubara mungkin telah dihasilkan oleh aktifitas bakteri metanogen. Gas biogenik dapat diproduksi di setiap saat sepanjang proses pembatubaraan dengan pendekatan jika hadir kondisi yang tepat.

Mengeluarkan gas metan pada batubara.

Gas metan tersimpan dalam batubara sebagai komponen gas yang teradsorpsi pada atau di dalam matriks batubara dan gas bebas dalam struktur micropore ataucleat lapisan batubara. Gas ini berada di tempat tempat yg menjebaknya terutama karena adanya tekanan reservoir. Apabila kita dapat mengurangi tekanan reservoir ini, maka memungkinkan gas yang terperangkap akan dapat keluar darimicropore pada batubara ini.
Untuk mengeluarkan gas metan ini tentusaja harus mengurangi tekanan dengan mengalirkan seluruh fluida yang ada terutama air. Ya, air akan sangat banyak terdapat dalam sela-sela lapisan (cleat) juga micropore (porositas mikro) pada batubara ini.
Pada proses penambangan batubara, sering juga dijumapi air ini. Seringkali air membanjiri pada lubang-lubang pertambangan batubara. Dan tentusaja diikuti oleh keluarnya gas-gas metan. Itulah sebabnya seringkali terdengar adanya ledakan tambang yang merupakan akibat terbakarnya gas metan yang terakumulasi dilubang tambang.
Untuk mengurangi resiko ledakan terowongan tambang serta memanfaatkan gas metan yang keluar inilah maka ide CBM muncul sebagai solusi untuk dua hal yang saling berhubungan.
Dalam proses pengeluaran air inilah gas akan secara bersama-sama ikut terproduksi. Jumlah air yang terproduksi semakin lama semakin berkurang sedangkan jumlah gas yang ikut terproduksi bertambah. Proses ini disebut “dewatering“. Proses dewatering ini memakan waktu yang cukup lama bahkan hingga 3 tahun. Ya selama 3 tahun inilah masa-masa menunggu yang sangat melelahkan sekaligus masa deg-degan karena menunggu sebesarapabesar kapasitas produksi sumur ini.
Berbeda dengan proses produksi minyak dan gas konvensional dimana tekanan gas cukup besar sehingga gas akan keluar dahulu yang kemudian akan diikuti oleh air.
Dibawah ini perbandingan komposisi air dan gas pada proses pengurasan air hingga proses memproduksi gas.
Tahap produksi CBM
Tentusaja pada saat awal sumur ini dipompa hanya air yang diproduksi. Setelah tekanan pori-porinya berkurang maka akan keluarlah gasnya. Proses awal inilah yang memerlukan kesabaran, karena dapat memakan waktu hingga 3 tahun, bahkan mungkin 5 tahun masih akan memproduksi air.
Walaupun memakan waktu cukup lama, saat ketika memproduksi air ini akan tetap terproduksi gas metana walau dalam jumlah yang sangat kecil. Juga gas ini tentusaja memiliki tekanan yang sangat rendah. Bahkan sering diperlukan kompressor untuk mempompakan gas ke penampungan.
Perbedaan CBM dengan gas konvensional.
Gas konvensional memiliki tekanan cukup tinggi sehingga produksi awalnya sangat besar dengan sedikit atau bahkan tanpa air yang ikut terproduksi. Dengan tekanan yang seringkali sangat tinggi ini menjadikan gas ini dapat ditransfer melalui pipa tanpa perlu pompa. Gas konvensional berisi metana C1H4 dan komponen-komponen gas hidrokarbon lainnya, bahkan dapat juga mengandung gas butana atau bahkan pentana yang sering kali menghasilkan kondensat.
Gas CBM seringkali berada pada lapisan batubara yang dangkal, sehingga memiliki tekanan yang sangat rendah. Pada masa produksi awal justru hampir 100% air. Dengan tekanan rendah ini maka apabila akan mengalirkan gas ini memerlukan kompressor untuk mendorong ke penampungan gas. Isinya diatas 95% hanya metana. Gas lainnya sangat sedikit. Sehingga sering disebut drygas atau gas kering.

Struktur pembiayaan dan pengembangan CBM

Karena karakteristiknya yang jauh berbeda dengan gas konvensional ini maka metode pengembangan dan pembiayaannya juga berbeda. Jumlah sumur yang diperlukan akan meningkat terus dan dapat berjumlah ratusan bahkan ribuan sumur untuk memperoleh gas yang cukup signifikan diproduksikan. Hal ini mempengaruhi struktur pembiayaannya seperti dibawah ini.
Pembiayaan CBM (by GCA)
Selain struktur pembiayaan dan metode pengembangan yang berbeda. CBM juga memiliki perbedaan dalam ketidak pastiannya. Tentusaja setiap kegiatan eksplorasi selalu ada ketidak pastian. Namun ketidak pastian dalam pencarian (eksplorasi) dan pengembangan (eksploitasi) CBM ini tidak sama dengan gas konvensional.
Ketidakpastian CBM dan gas konvensional.
Ketidakpastian volume CBM yang dapat diproduksikan sangat besar diawal. Hal ini disebabkan CBM belom lama dikembangkan dibanding gas konvensional. Belom banyaknya perkembangan teknologi dan teori tentang CBM ini menjadikan ketidakpastian yang sangat lebar. Namun selaras dengan pengalaman, maka semakin berpengalaman dan semakin lama diproduksikan CBM-pun akan semakin lebih mudah “ditebak” (predictable).
:( “Iya ya Pakdhe. Selain belom adanya teknologi maka semakin sulit. Wong teorinya saja belom diketahui, ya ?”
:D “Iya Thole. Tetapi semakin duluan kamu tahu tentang CBM akan semakin akan memimpin dan ‘leading’ dalam bisnis ini. Siapa tahu duluan tentunya akan meraup keuntungan lebih dahulu, kan ?”

Dampak lingkungan akibat penambangan CBM (Gas metan batubara)

Setiap kegiatan pemanfaatan bumi, bahkan hanya untuk rumah tinggal selalu memiliki dampak. Untuk memanfaatkan CBMpun juga tidak lepas dari dampak itu. Yang paling sering menjadi tantangan pemeliharaan lingkungan antara lain banyaknya air yg terproduksi, serta bagaimana dengan metana ini.
Batubara terbentuk didaerah rawa yang berupa air tawar. Demikian juga air yang terperangkap ini juga berupa air tawar yang tentusaja akan bercampur dengan garam-garaman. Dengan demikian diperkirakan air yang terproduksi berupa air yang memiliki salinitas rendah dibanding air laut.
Beberapa metode digunakan untuk membuang air sumur; yang paling umum adalah untuk mengembalikan dengan menginjeksikan air ke dalam formasi batuan bawah permukaan. Pendekatan lain adalah untuk membangun kolam penampungan, atau infiltrasi, kolam. Di daerah dingin, air ini tentusaja akan beku di musim dingin dan garam akan dipisahkan, sehingga air kemudian dapat dibuang. Sebagian besar air tawar diekstrak dapat digunakan untuk irigasi tanaman atau lahan pertanian. Para ilmuwan terus melakukan penelitian pada metode yang ramah lingkungan baik untuk membuang atau menggunakan kembali air diekstraksi.
Dampak Positif.
Sumur CBM juga dapat memberi kontribusi positip dengan mengurangi proses alamiah yang dikenal sebagai migrasi metana, yang terjadi saat kebocoran metana ke daerah penduduk dan mencemari sumber air. Meskipun migrasi metana dapat terjadi secara alami atau dapat berasal dari operasi pertambangan batubara, beberapa ahli percaya bahwa ekstraksi metana dari lapisan batubara bersama dengan sumur pengembangan tambahan justru menguatkan proses migrasi.
Meskipun ada potensi dampak lingkungan yang negatif yang berkaitan dengan CBM, ekstraksi dan pemanfaatan tidak menyebabkan gas metan yang akan secara alamiah terbebaskan selama pertambangan batu bara ke atmosfer. Sebagai gas rumah kaca,metana diyakini yang paling kuat dari semua agen pemanasan. Dengan memanfaatkan dalam proses pembakaran (combustible engine) sehingga gas ini menjadi CO2 dan H20 dinilai lebih ramah ketimbang melepas gas metan di atmosfer. Membatasi jumlah metana yang keluar sebagai gas metana tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, namun juga meningkatkan aspek keselamatan penambangan.

Untuk apa saja CBM ini ?

Saat ini gas-gas CBM masih diperlakukan seperti gas konvensional dalam pemanfaatannya. Bahkan bentuk kontrak pengusahaan CBM ini masih meniru dan mengacu pada kontrak gas konvensional (sistem bagihasil PSC) dengan sedikit modifikasi.
Pengusahaan CBM saat ini.
Tentusaja gas ini dapat  dipakai untuk kebutuhan gas pada umumnya. Bahkan dapat juga dipakai sebagai feedgas (gas masukan bahan dasar) pada pembuatan LNG, juga dapat dipipakan untuk konsumsi rumahtangga setelah diproses, juga dapat dipakai sebagai penggerak dan bahan bakar generator listrik
:( “Looh Pakde, berarti bisa dong untuk meningkatkan produksi listrik di Indonesia ?”
:D “Ya tentusaja Thole. Justru ini yang akan diusulkan C4e”
:( “Apa itu C4e Pakdhe ?”
:D “CBM for electric, CBM untuk memenuhi kebutuhan listrik”
Dongeng sampai disini dulu. Selanjutnya nanti akan di dongengkan bagaimana proses C4e ini …. pssst C4e ini merupakan pengembangan filosofi Gas as energy not just a commodity !

Sumberdaya Gas Alam – 1

By : Rifalafka



Dalam setiap pembicraan energi di dunia saat ini, gas sering menjadi primadona karena issue semakin menipisnya cadangan minyak dunia. Tidak kalah serunya juga membicarakan energi di dalam negeri NKRI tercinta ini.
Sumberdaya Gas Alam, dalam hal ini gas yang dapat dibakar (Combustible gas) adalah gas hidrokarbon. Ya, seperti halnya minyakbumi, gas juga berupa hidrokarbon, merupakan rangkaian hidrogen (H) dan karbon (C). Gas memiliki rangkaian C pendek sedangkan minyak memiliki rangkaian dengan C lebih dari 5. Karena gas ini juga hidrokarbon, maka terdapatnya minyak dan gas alam ini dapat dijelaskan menjadi satu. Itulah sebabnya minyak dan gas ditangani oleh satu badan tersendiri dirjen MIGAS. Namun, apakah semua harus ditangani dengan cara yang sama, atau berbeda ? Okelah, kita mulai dari bagaimana terbentuknya gas ini dan kemudian bagaimana terdpaatnya gas ini. Nah selanjutnya dengan mengetahui karakterstik gas ini kita bisa melihat bagaimana semestinya menangani atau menggunakan gas-gas alam ini.

Terbentuknya gas alam

minyak-3.jpgMinyak dan gas alam yang dihasilkan dari sisa-sisa organisme yang diendapkan dalam batuan sedimen berbutir halus bersama dengan butir mineral batu-batu. Sebagai sumber batuan ini dimakamkan oleh sedimen diatasnya, yang bahan organik diubah menjadi minyak dan gas bumi, pertama melalui proses bakteri dan kemudian oleh suhu tinggi yang terkait dengan penguburan untuk beberapa ribu meter. Minyak dan gas bumi kemudian keluar dari batuan induk ke batuan reservoir yang berdekatan berpori. Karena minyak dan gas kurang padat daripada air yang jenuh pada pori-pori batuan reservoir, mereka bergerak ke atas melalui sistem pori sampai mereka hadapi batuan kedap air. Pada titik ini, minyak dan gas mengumpulkan dan lapangan minyak atau gas dibentuk. Selengkapnya silahkan baca ulang ceritanya disini : Proses pembentukan minyak bumi.Gas alam ini dapat terbentuk secara biogenik dan thermogenik. Gas biogenik mirip dengan BIOGAS yg dibuat oleh manusia, sedangkan alam membuat gas bio ini di rawa-rawa, sehingga sering disebut juga gas rawa. Sedangkan gas yang terbentuk akibat tekanan dan panasbumi disebut gas thermogenik. Gas thermogenik ini terbentuknya mirip dengan minyak bumi yang pernah dituliskan disini Proses pembentukan minyak bumi

BIOGENIC GAS

oil-generation.jpgPada tempat yang sangat dangkal gas dapat terbentuk karena proses biologi, aktifitas bakteri. Tentunya anda mengenal BIOGAS bukan ?
:( “Wah belum tahu BIOGAS, pakdhe belom pernah mendongeng tentang BIOGAS, kan ? :D “Oke, Thole Biogas ini mirip gas metana di rawa atau gas rawa. Nanti mendongeng lagi dweh”
Proses awal pembentukan gas biogenic ini sering terjadi di rawa, namun juga terbentuk secara massal sehingga membentuk konsentrasi biogas alam yang cukup besar. Gas ini dapat ditambang seperti mengambil gas alam biasa. Namun komponen utamanya methana. Sering disebut Gas Metan.Intinya, gas biogenik ini merupakan hasil metabolisme dari bakteri. Sehingga tidak akan terbentuk pada suhu tinggi.
:( “Oooh, aku tahu Pakdhe. Gas biogenik ini kayak kentutnya bakteri gitu, kan ?”
Pada gas yang terbentuk secara thermogenik, gas ini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya minyak. Semakin dalam batuan yang banyak mengandung senyawa organik ini menghasilkan minyak, dan apabila suhunya semakin tinggi akhirnya terbentuk gas.Lihat grafik diatas, oil peak (puncak keluarnya minyak) berada diatas gas peak (puncak dihasilkannya gas), Dengan demikian gas seringkali terbentuk dan terdapat pada tempat yang sangat dalam dan tekanan tinggi.Apakah semua gas itu sama cara mencari dan memproduksikannya ? Sebelum menjawab pertanyaan sederhana diatas, kita lihat dulu seperti apa keterdapatan sumberdaya gas alam ini.

Jenis-jenis terdapatnya gas alam

Gambar dibawah ini merupakan sketsa ringkas bagaimana gas-gas itu berada.
Macam ragam terdapatnya gas alam

Gas Konvensional

Keterdapatan gas alam yang selama ini sudah dikenal secara konvensional sering berasosiasi dengan minyak bumi. Gas ini akan berada pada batuan berpori. Gas ini akan mengisi pori-pori batupasir. Sama seperti terdapatnya minyak bumi yang berada pada sela-sela butiran (pori-pori) batuuan reservoir yang berupa batupasir ataupun batugamping.
Karena terbentuknya pada suhu tinggi, maka gas konvensional ini berada ditempat yang sangat dalam dan tentusaja memiliki tekanan tinggi. Masih ingat kan, kalau kita menyelam lebih dalam maka kita juga akan semakin mengalami tekanan. Demikian juga dengan pembentukan gas thermogenik ini.
Karena gas ini terkumpul pada batuan berpori, maka lebih mudah mengeluarkan gas ini. Sehingga walaupun sering dijumpai bersama-sama dengan minyak bumi, gas konvensional lebih mudah diproduksi.

Gas Serpih (Shale Gas)

The Marcellus Shale formationPada batuan yang banyak mengandung material organik penghasil minyak dan gas ini pada kedalaman yang sangat tinggi menghasilkan gas. Namun kadangkala karena tekanan sekitar batuan ini cukup besar (karena sangat dalam), gas yang berada dalam serpih ini tidak mampu keluar dari sarangnya. Gas ini terjebak dalam serpih, tentusaja serpih tidak memiliki pori-pori sebesar batupasir. Bahkan gas-gas ini terjebak dalam retakan-retakan yang berada pada serpih-serpih ini.
Namun karena dalam serpih ini juga seringkali tidak ada airnya, maka gas yang terjebak ini dapat keluar apabila dilubangi. Ya dilubangi dengan membuat sumur khusus. Sumur ini terutama sumur yang memotong batuan ini. Semakin panjang sumur ini memotong batuan serpih, semakin banyak kemungkinan gas akan dapat keluar dari sela-sela serpih, maupun dari sela-sela retakannya.
Karena sering terdapat pada posisi yang sangat dalam gas ini memiliki tekanan tinggi. Tentusaja semakin dalam suhunya semakin tinggi. Itulah sebabnya gas serpih ini tergolong gas non-konvensional. Memerlukan teknik dan teknologi khusus dalam memproduksikannya.

Tight Sand Gas (Gas pada pasir berporositas rendah)

Gas serta minyak mengalir ke atas melalui batuan yang memiliki kemampuan mengalirkan sangat baik, salah satunya batupasir. Ada kalanya batupasir ini sudah terkubur pada kedalaman yang sangat dalam, sehingga tertekan oleh beban batuan diatasnya yang menyebabkan pori-porinya sangat kecil. Karena porositasnya rendah, gas yang melewatinya tidak mampu teralirkan lagi. Seolah-olah gas itu terjebak dalam batupasir ini.
Mirip seperti pada gas serpih diatas, Tight Gas sand ini  terdapat pada kedalaman yang menyebabkan tekanan serta suhu tinggi. Sehingga untuk memproduksikannya tidak dapat secara konvesional. Perlu teknik dan tenologi khusus.
Gas pada batupasir yang berporositas rendah ini termasuk gas non-konvensional.
Bersambung

oleh alam atau oleh manusia ?

By : Rifalafka


Hampir semua ahli kebumian (geologi) melihat fenomena BPJ ini sebagai gejala alam yg dipicu oleh aktifitas manusia. Pembelokan ini menurut beberapa kawan di IAGI (dalam diskusi lewat net) “BUKAN dibelokkan oleh pendapat ahli”. Tetapi proses kecelakaan ini berkembang menjadi sebuah proses bencana alam. Kejadian ini menjadi “DOMINAN” sebagai proses alamnya akhir-akhir ini.

Hampir semua daerah dibawah perut bumi ini memiliki tekanan. Looh apa penyebabnya. Ya gravitasi. Gaya yg diketemukan oleh Newton ketika kejatuhan apel … pluk ! Gaya gravitasi bumi ini menarik benda-benda ke pusat bumi. Besarnya gaya ini tergantung dari densitasnya. Yang memilki densitas besar akan lebih kuat ditarik dibanding yg memiliki densitas (berat-jenis) lebih kecil. Lah, kenapa lumpur ini mecotot keluar ? Karena lumpur ini densitasnya lebih kecil dari densitas batu yg diatasnya. Batuan yg berada diatasnya seolah-olah menjadi beban batuan dibawahnya. Karena batu lempung (lumpur) dibawah sana masih gembur, maka akan sangat mudah mecotot akibat terkena tekanan. Dan karena densitasnya lebih kecil maka batu-lempung ini yang kalah dan mecotot keluar.
Daerah Jawa Timur itu dibawahnya ada yg berupa tanah lumpur gembur (non lithified mud) yang “berpotensi” timbulnya Mud Volkano (MV). Ingat “berpotensi” menimbulkan MV. Kalau didiemkan ya ndak apa-apa. Tetapi mungkin (dugaan, mesti ada praduga tak bersalah nih) karena “diberi” jalan akibat pemboran yg amburadul proses pembentukan MV itu terakselerasi. Seperti kelahiran bayi yg masih prematur yang dipacu oleh dukun dan lahir … prucut !.
Kalau bayi lahir mah ditunggu-tunggu lah ini kalau lumpur keluar ya harus dihindari lah. Karena kelahiran lumpur ini merupakan bencana …. Jadi kelahiran bencana ini sangat mungkin karena potensinya diutik-utik, diganggu, di bor dengan tidak memperhitungkan kejadian-kejadian yg berbahaya. Seperti yg aku tuliskan sebelumnya bahwa bencana ini agak sedikit berbeda dengan bencana Chernobyl maupun Exxon-Valdez.
mudflow2.jpgBencana banjir lumpur ini berbeda dengan bencana pencemaran tumpahan minyak Exxon dengan muntahnya minyak dari kapal tanker Exxon-Valdez pada tahun 1989 dan juga berbeda dengan bencana industri PLTN Chernobyl. Kedua bencana terakhir ini juga sama-sama dipicu oleh kegiatan manusia, namun jumlah bahan polutan, serta semua parameter teknis awalnya sangat “terukur”. Kita tahu jumlah minyak mentah yg tumpah sebanyak 11 juta gallon, kita tahu secara teknis berapa bobot mati serta konfigurasi dari kapal Exxon-Valdez. Demikian juga dengan parameter-parameter awal dari Chernobyl, kita tahu jumlah bahan-bakar nuklir yang ada, kita tahu konstruksi bangunan PLTN ini. Dalam hal bencana banjir lumpur lapindo ini, kita berhadapan dengan sebuah bencana alam yg tidak diketahui kondisi teknis awal apa yang ada dan yang terukur dengan pasti. Semua parameter berada dibawah permukaan berupa parameter yg sifatnya interpretatif.
Kesamaannya adalah, efek serta dampak lingkungannya menjadi mencengangkan ketika kita tidak mampu mendeteksi apa yg bakal terjadi selanjutnya. Exxon-Valdez maupun Chernobyl menjadi sebuah kecelakaan yg tidak mampu ditangani oleh manusia, demikian juga keluarnya lumpur dari perut bumi ini.
Kedua contoh kecelakaan diatas menjadi sebuah bencana seolah-olah mirip seperti kejadian bencana banjir lumpur ini –> “ketika tidak dapat dikontrol lagi”, dan banyak pula yang menyetarakan tingkat kebencanaannya (uncontrolled).
Andang Bachtiar mantan ketua IAGI secara tegas menyatakan : “Itu karena data-data dan bukti eksplorasi yang saya terima menunjukkan, apa yang terjadi adalah ‘mud vulcano’ (gunung lumpur) yang dipicu proses pengeboran,” ujarnya usai berbicara dalam simposium tentang pembuangan lumpur Porong di ITS Surabaya, Kamis (7/9) – dikutip dari Tempo interaktif.
Menurut saya :
  • Penanganan penyebab –> Industrial Accident (peradilan)Yang bersalah dihukum. Penyidikan dilakukan dengan dasar-dasar scientific approach, karena menyangkut hal-hal tenis. Saya yakin penyidik dari kepolisian sudan belajar teknik pemboran, kan ?
  • Penanganan akibat –> Natural Disaster (actions)Membiarkan Lapindo menangani sendiri sama saja menyengsarakan rakyat yg jelas terkena bencana lumpur ini. Lapindo mapun Bakrie sekalipun pasti termehek-mehek menangani luapan lumpur ini. Ada hal-hal tertentu yg hanya diketahui oleh Lapindo, misal data geologi bawah permukaan dimiliki oleh Lapindo. Semua assetnya jangan dibekukan sehingga tidak dapat diakses (ini bukan accident mode) tetapi semua data dimanfaatkan secara terbuka untuk menangani bencana lumpur.
    Hal ini penting juga karena banyak data-data yang menurut ESDM bersifat RAHASIA harus dibuka. ESDM perlu legowo menerbitkan serta membuka data-data ini.

Kapan saat kamu terkecil yang bisa diingat ?

By : Rifalafka

Kapan saat kamu terkecil yang bisa anda ingat ?
Semasa 2 tahun, 4 tahun atau ketika bayi ?
Ingat ndak wektu kamu lahir, ceprot ? Ngga mungkin kan ?
Tetapi kenapa kamu yakin bahwa hari lahirmu tanggal yang tertulis di Akta kelahiran ?
Kenapa kita yakin bahwa yg melahirkan kita itu “ibu” kita yg sekarang kita kenal ?
Paling banter hanya karena surat kenal lahir atau akta kelahiran. Bahkan mungkin foto kita wektu berumur beberapa hari yg di “klaim” itu adalah diri kita waktu kecil. Walopun tanpa ada memory (ingatan di otak) dan kita percaya saja kan … apa kata nenek, om, tante dsb. Keyakinan bahwa foto itu adalah diri kita hanyalah keyakinan yg “dihembuskan” oleh pendahulu kita (ortu, paman, kakek dll) tanpa kita menyadarinya.
– :( “Tapi Dhe, kan ada kemiripan wajahku dengan bapak sama simbokku ta ?”
:) “Yak tul, ada kemiripan … lah kalo kamu sama munyuk piye, le ?”
– :( 
mbesengut !! “Wah Pakdhe niku …. mosok siih … ?”
Demikian lah … diri kita ini tahu “bahwa dirikita ada” ketika memory termuda yg dapat kita rekam. Aku sendiri memilki memory terkecil umur 2 tahun. Aku inget ketika diambil dari rumah nenek di Solo ketika peristiwa terjadi peristiwa Gestapu tahun 65. Menurut leluhur (kakek, nenek, baak ibu) aku sebelumnya dititipkan di rumah nenek sejak umur 1 tahun (kalau wektu sebelum titik awal ini, aku ga inget blass). Teapi ntah mengapa aku inget ketika turun dari bis yg membawaku dari Solo tempat nenek aku dititpkan. Ntah, apa sebabnya, tetapi ini peristiwa “kahadiranku” di dunia yg aku “sadari“. Selain itu … blass aku hanya percaya kata “leluhur” (orang yg mengaku bapakku, ibuku, kakekku, nenekku, juga pamanku). Dan crita tentang diriku sebelum umur 2 tahun hanyalah seperti mitos tanpa ada ingatan di otak ini.
Nah kapan anda punya ingatan terawal ?
Sekarang bagaimana kalau kita analogikan dengan evolusi dan kehadiran manusia di bumi ini.
Nah bisa ngga dibayangkan …. sejak kapan manusia ini ada ?
evolusi_kuda.jpgKalau saja foto kecil kita (dimana kita ngga punya memory sama sekali) digantikan oleh fosil ? Fosil merupakan evidence bahwa dahulu ada mahkluk yg saat ini sudah tidak ada.
kalau saja akta lahir itu digantikan buku-buku ilmu pengetahuan dan kamu digantikan “manusia” sejak dahulu ….
Jadi, percaya kah bahwa fosil Pithecanthropus Erectus itu ada hubungan dengan “manusia jaman dulu”?
Dan bisakan kita mengerti bahwa “evolusi” itu ada ?
Diatas itu gambar evolusi kuda diambil dari britanica.com. Untungnya kuda ini tidak protes kalau dibilang keturunan dari biatang mirip anjing. Apakah yang dijumpai itu lengkap mulai dari ujung muka hingga buntut ? Tidak, hanya fosil kakinya saja yang terekam lengkap dalam kumpulan fosil-fosil yg sudah diketemukan.

Memahami teori evolusi dari diri sendiri.

By : Rifalafka


Don't trust evolution, it is just a science, not for believer :)
Memahami teori evolusi mirip memahami kemunculan kita atau kelahiran diri kita di dunia.
Ketika kita lahir ceprot ! Tak ada yang dapat meyakinkan kita bahwa kita lahir pada jam itu, tanggal itu dan oleh ibu itu dengan sang ayah yang itu. Yang ada hanyalah selembar surat. Dan kesaksian mereka. Kita yakin itu adalah tanggal kelahiran kita tanpa kita mampu membuktikannya atau menolaknya.
:( “Lah hiya Pakdhe. Emang kita wektu lahir bisa ngomong dan langsung bertanya. Lah nanti malah pada kaget smua kalau bayi lahir bertanya bukan menangis :)”
Ketika umur sekian bulan ada foto-foto kita. Juga ketika TK, SD. Nah saat itu kita baru punya ingatan. Pertanyaan yang mungkin agak sulit tentang mulainya sejarah diri kita sendiri, “kapan saat terkecil yang anda ingat ?“. Saya yakin ndak ada yg ingat saat dilahirkan. Ndak ada yg ingat wajah doker, atau bidang yg menolongnya.
Skalilagi kita hanya percaya pada selembar surat dan selembar foto, serta pengetahuan dari orang yg tahu tentang masa kecil kita. Jarang diantara kita yang kemudian melakukan checking dan recheck ke Rumah sakit atau bertanya pada bidan yang membantu ibu melahirkan kita. Juga ndak ada yang berniat membuktikan apakah kita keturunan ayah dengan uji DNA. Namun rata-rata hanya percaya saja dengan surat dan cerita dari orang tua yang sudah ada saat kita lahir.

Sumber data dan sumber ilmu

pohon_ilmu_evolusi.gif
Teori evolusipun berevolusi
Saya ibaratkan surat akta lahir itu sebagai sebuah data sumber ilmu pengetahuan. Orang tua, pakdhe, budhe dan om-tante adalah para alhi. Yang kebetulan dituliskan dalam selembar kertas. Dan ketika saat terkecil munculnya kita adalah saat munculnya kesadaran. Kapan itu ? Saya sendiri hanya ingat masa terkecil saya ketika usia 3 tahun. Itu saat termuda yang mampu saya ingat. Walaupun tetep samar-samar. Tetapi saya ingat lokasi dan dengan digendong almarhum bapak saya. Setelah itu memori saya barulah saya mampu merunut kehidupan saya telah berjalan setapak-setapak hingga kini.
Foto-foto lain serta tulisan serta memori yang ada di otak saya menjelaskan perjalanan hidup saya sejak bayi (yg saya tidak ingat sama sekali) hingga kini ada di Jakarta.
Evolusi mahluk dan perjalanan hidup
Nah bisa kita mengibaratkan foto-foto itu sebagai fosil fosil. Saya bisa percaya fosil itu sisa mahluk hidup masa lampau. Layaknya saya melihat foto masa bayi saya ketika tengkurap. Sayapun hanya percaya itu foto saya karena diberitahu om, pakde serta ortu saya. Demikian juga fosil-fosil itu. Saya lihat foto saya bayi mirip dengan saya. Dan berkembang menjadi saya. Saya juga melihat fosil-fosil itu berkembang berubah seperti layaknya perubahan yg perlahan.
Kalau saya bisa dan mampu mengerti foto-foto itu adalah foto-foto perkembangan saya sejak dahulu, maka secara sederhana saya juga meyakini fosil2 itu sebagai jejak napak tilas perubahan mahluk hidup. Dan dengan begitu saya mudah mengerti bagaimana proses evolusi itu berkembang.
Ita, sejak bayi hingga kini
Disebelah ini foto perkembangan sahabat saya, Ita (Alphita) yang dikumpulkannya sejak kecil. Di atas memeperlihatkan Ita yang masih bayi, tentusaja kalau ditanya dia tidak akan bisa ingat sewaktu bayi. Tapi saya yakin dia percaya saja bahwa itu dirinya. Tentusaja selain dengan dongengan kakek nenek serta ibu-bapaknya, Ita juga melihat perkembangan wajah dirinya. Dan itu yang akan membuatnya percaya bahwa foto bayi dan anak kecil itu adalah dirinya.
Nah kita tahu ada fosil yang terrekam dalam batuan merupakan sisa mahluk hidup masa lalu prosesnya bisa dilihat ditulisan ini Apa itu fosil ?. Tentusaja fosil-fosil ini tidak terrekam lengkap. Mirip seperti rekaman foto kita juga terpencar-pencar. Karena dulu belum ada filem yg merekam perjalanan kita sepanjang masa. Namun dengan fosil inilah para ahli mempelajari proses perubahan mahluk hidup dan melahirkan teori evolusi.
Tentusaja perubahan individu ini akan berbeda dengan perkembangan mahkluk hidup secara kolektif.  Perubahan yang terlihat dalam proses evolusi bukanlah perubahan individu, juga bukan perkembangan satu keluarga saja, tetapi perubahan kolektif spesies selama jutaan tahun. Namun harus dimengerti juga bahwa kita pun memiliki keterbatasan kesadaran dalam memahami sejarah diri sendiri. Demikian juga teori evolusi. Teori ini memiliki titik-titik simpul yang masih lepas tak berhubungan. Mirip seperti sulitnya memahami rekaman sejarah diri kita sewaktu bayi.

Mekanisme evolusi

By : Rifalafka

evo4.gifWis ah, daripada protes dan nggrundel soal lusi lebih enak crita nglanjutin dongeng soal mekanisme evolusi. Tetapi sebelum kulanjutkan, aku pertegas lagi supaya lebihmerasuk bumbunyaben sedep rasanya :)
Mekanisme evolusi bukannya spesiasi, mekanisme evolusi bukanlah munculnya spesies-spesies baru. Setelah melalui beberapa (kombinasi dan variasi) mekanisme, serta melalui waktu yang cukup lama barulah nantinya akan muncul spesiasi. Skali lagi juga bagaimana rumus spesiasi ini masih belum ada yg merumuskan. Sangat mungkintidak hanya satu mekanisme saja untuk menjadikan munculnya spesiasi. Misalnya, ini misalnya looh, karena ada genetic drift, ditambah dengan Genflow, mutasi genetik dan didukung perubahan iklim cuaca serta lingkungan hidupnya, barulah muncul spesiasi baru. Jadi jangan buru-buru menganggap hanya dengan mutasi thok dapat menimbulkan atau memunculkan sebuah sepesies baru. Tidak mungkin hanya dengan natural selection thok, atau mutasi thok terus muncul spesies baru.
– :( ” Makin rumit dan makin asyik aja nih, Pakdhe ”
Ada beberapa mekanisme evolusi lainnya yang akan aku tambahkan disini adalah bagian dari mekanisme natural selection.
Pemilihan seks – Sexual selection
Male peacock display
Redback spiders courting
Male elephant seals fighting
Female cricket with sperm-packet
Binatang dalam mengembangkan keturunan menggunakan seleksi, iya lah mereka juga memilih pasangan. Misalnya burung merak mencoba mengembangkan bulu-buntutnya. Ada juga singa dan juga beruang bergelut untuk mempertahankan teritorial untuk mengawini betina di lingkungannya. Ini semua merupakan salah satu mekanisme seleksi seksual.
Ingat !! Meneruskan generasi dengan mekanisme pilihan seksual ini hanya untuk binatang-binatang yg sudah mengenal sexual. binatang bersel satu tentunya ga punya seksual. Hewan-hewan sejenis hermaphrodite, misal cacing, bekicot dsb juga tentunya tidak akan mengenal mekanisme ini, kan ?
Ingat !! Pelajaran smp-smu dahulu menyatakan hewan dikatakan masih satu spesies seandainya kalau kawin keturunannya masih bisa menurunkan. Kalau tidak satu spesies, maka tidak akan membentuk keturunan. Nah kalau hewan bersel satu apa iya spesiesnya bisa dikategorikan dengan cara ini ?
Dalam menurunkan keturunan inipun ada yang sampai mempertahankan hidup mati. Nah yang kesian si laba-laba ini, dimana pejantan sering menjadi ‘mangsa’ si betina setelah melakukan perkawinan. iih sadissh !
Di tempat lain binatang ada yang mengeluarkan bau-bauan supaya menarik pasangannya. Binatang yang baunya paling harum akan menarik lawan jenisnya …tetapi … nah ternyata ada tetapinya, bau-bauan ini juga akan menarik perhatianpredatornya (pemakan) … Blaik !! Jadi yang dalam satu mekanisme dianggap positip tetapi dengan mekanisme lain menjadi negatip. Lah rums spesiasinya jadi rumit kan ?
Jadi penerusan keturunan ini akan sangat mungkin menyebabkan munculnya variasi, dan kalau bergabung dengan mekanisme lain serta jangka waktu lama (artinya berulang) dan dalam jumlah populasi tertentu di lingkungan yang khusus baru akan menyebabkan munculnya spesiasi. Duh, syaratnya puanjang kaaan ? . Lah rumusnya ini sperti apa, sependek pengetahuanku belum ada yang sukses merumuskannya.
Ada hal menarik dalam sexual selection ini pada binatang-binatang yaitu
  • Kompetisi Pejantan – Male competition
    Pejantan berkompetisi untuk dapat memperoleh pasangan. Namun kalau keseringan bertanding justru mengurangi waktu untuk kawin (mesakne temen). Ada juga jangkrik yang menyebar sperma kemudian ditunggu oleh pejantan supaya didekati betina. Pejantan lain akan mencoba menganggu lawannya tetapi harus menungguin miliknya … jian lucu tenan :D
  • Pilihan Wanita – Female choice
    Betina dapat memilih pejantan mana yang dapat mengawininya. Bahkan ada binatang yang mampu membuang sperma pejantan yang tidak disukainya.wupst !.
Pilihan Buatan – Artificial Selection
Artificial selection in the mustard family
the process of artificial selection
Selain dikenal adanya mekanisme seleksi secara alamiah. Ada juga mekanisme seleksi secara buatan manusia. Banyak sekali contohnya saat ini, misalnya pemilihan buah buahan berkualitas dengan jenis tertentu yang menyebabkan penerusan keturunanya akan secara buatan menyeleksi sesuai yang diinginkan.
Di alam diketemukan berbagai jenis varian dari jagung. kemudian Pak Tani memilih jagung yang besar-besar untuk ditanam kembali. proses ini berulang-ulang sehingga akhirnya populasi jagung vaitas unggul menjadi dominan.
Masih banyak looh mekanisme lainnya, tetapi cukup sekian dulu nanti diterusin kalau ada masa :D
Masih perlu diingetin lagi, bahwa mekanisme evolusi ini ada beberapa seperti yg sudah ditulis sebelumnya. Dan perlu diketahui bahwa munculnya spesies baru yang sering menjadi perdebatan itu merupakan hasil akhir dari ramuan mekanisme evolusi, pada lingkungan tertentu serta waktu panjang juga gabungan dengan mekanisme populasi lainnya.

Sejarah singkat bumi dan kehidupannya

By : Rifalafka


geotimespiral.gifUntuk melengkapi pengetahuan kita bersama tentang proses evolusi yg ramai didiskusikan dibanyak tempat, juga ada yg bertanya disini. Berikut adalah sejarah singkat dari bumi serta kehidupannya. Tentunya sejarah singkat dari bumi ini diperlukan sebagai awal untuk ndongeng tentang evolusi.
Untuk soal dimensi atau satuan waktu coba bandingkan usia Homo Floresiensis (…iensis ! jangan salah tulis) yg diperkirakan hidup 18 ribu tahun lalu dengan usia bumi yang diperkirakan 4,6  Milyar tahun). Homo floresiensis ini diketemukan di Gua Liang Bua tahun 2003 Flores, Indonesia. Dan barusan diumumkan sebagai mahluk hidup yg berbeda spesies dengan manusia saat ini.
Bayangkan Homo Floresiensis (manusia kerdil di Flores) ini baru berusia 18 000 tahun, sedangkan usia bumi 4 600 000 000 000 tahun !
  • Bagi yg suka mendalami science … bayangkan betapa lambatnya dan pelannya proses evolusi ini berjalan. Sebuah proses ‘ilusi waktu‘ yg tidak mudah diungkap dan diterima setiap orang begitu saja.
  • Bagi yg suka agama …. Tuhan menciptakan alam ini dengan sangat lama dan berhati-hati … Jadi kita perlu menjaga !
Evolusi adalah sebuah teori ilmiah tentang perkembangan mahluk hidup. Ketika ada yg bertanya apakah berarti manusia dari kera ? Mestinya langsung ngamuk-ngamuk.
:) “Blaik … saya mesti njawab gimana ? Emange nenek moyangku munyuk ?”
:D “Katanya sih nenek moyangku orang pelaut … wupst ! “:D
Untuk belajar tentang evolusi dari ilmu geologi lebih baik dimulai dari pengenalan jaman-jalan serta dimensi waktu geologi dulu ya.

Sejarah Bumi

Bumi tempat segenap makhluk hidup termasuk manusia telah terbentuk kira-kira 4 600 000 000 tahun lalu bersamaan dengan planet-planet lain yang membentuk tatasurya dengan matahari sebagai pusatnya.
Sejarah kehidupan di bumi baru dimulai sekitar 3.500.000.000 tahun lalu dengan munculnya micro-organisma sederhana yaitu bakteri dan ganggang. Kemudian pada 1.000.000.000 tahun lalu baru muncul organisme bersel banyak.
– :) “Lah dhe, trus 2 milyar tahun itu ngapain aja ?”
Pada sekitar 540.000.000 tahun lalu secara bertahap kehidupan yang lebih komplek mulai berevolusi …. (mm sik sik … sebaiknya aku sebut berubah dulu deh. Kalau denger kata evolusi nanti ada yg ngga stuju :).
Perkembangan perubahan tetumbuhan diawali oleh Pteridofita (tumbuhan paku),Gimnosperma (tumbuhan berujung) dan terakhir Angiosperma (tumbuhan berbunga).
Sedangkan perkembangan dan perubahan hewan dimulai dari invertebrata, ikan, amfibia, reptilia, burung dan terakhir mamalia, kemudian terakhir kali muncul manusia. ….. (wupst ! kebablasan ! Soale mesti ada yg maunya kesana kan ?)
Kalau dalam ilmu sejarah kita mengenal jaman-jaman dengan nama-nama khususnya. Misal Jaman Batu, Jaman Majapahit, Trus ada yang membagi lagi dengan Kala, Masa dan sebagainya. Dalam ilmu geologi juga mirip. Ada yg disebut “jaman“, “kala“, “periode” dan sebagainya.
Kalender Geologi dapat dilihat seperti dibawah ini :
Skala Waktu Geologi

Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa Pra-Kambrium.
Nah sekarang apa saja yg dipercaya oleh ahli geologi, apa yg terjadi dengan mahluk hidup pada masa-masa itu.
Masa Arkeozoikum (4,5 – 2,5 milyar tahun lalu)
Arkeozpoikum artinya Masa Kehidupan Purba
archaea.jpgMasa Arkeozoikum (Arkean) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai benua.
Coba perhatikan, masa ini adalah masa pembentukan kerakbumi. Jadi kerakbumi terbentuk setelah pendinginan bagian tepi dari “balon bumi” (bakal calon bumi). Plate tectonic / Lempeng tektonik yang menyebabkan gempa itu terbentuk pada masa ini. Lingkungan hidup mas itu tentunya mirip dengan lingkungan disekitar mata-air panas.
Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga merupakan awal terbentuknya Indrosfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupanprimitif di dalam samudera berupa mikro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun.
Masa Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta tahun lalu)
Proterozoikum artinya masa kehidupan awal.
Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes).
Kalau istilah-istilah ini dipelajari di ilmu biologi, mestinya di SMP sudah diajari kan ? Enkaryotes ini bakal menjadi tumbuhan dan prokaryotesnantinya bakal menjadi binatang.
Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama.
Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa Pra-Kambrium.
Jaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu)
Kambrium berasal dari kata “Cambria” nama latin untuk daerah Wales di Inggeris sana, dimana batuan berumur kambrium pertama kali dipelajari.
Banyak hewan invertebrata mulai muncul pada zaman Kambrium. Hampir seluruh kehidupan berada di lautan. Hewan zaman ini mempunyai kerangka luar dan cangkang sebagai pelindung.
Fosil yang umum dijumpai dan penyebarannya luas adalah, Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda (Trilobit).
Sebuah daratan yang disebut Gondwana (sebelumnya pannotia) merupakan cikal bakal Antartika, Afrika, India, Australia, sebagian Asia dan Amerika Selatan. Sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Tanah Hijau masih berupa benua-benua kecil yang terpisah.
Jaman Ordovisium (500 – 440 juta tahun lalu)
Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama kali seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lili Laut) dan Bryozona.
Koral dan Alaga berkembang membentuk karang, dimana trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar.
Meluapnya Samudra dari Zaman Es merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai menutup celah samudera yang berada di antaranya.
Jaman Silur (440 – 410 juta tahun lalu)
Zaman silur merupakan waktu peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku). Sedangkan Kalajengking raksasa (Eurypterid) hidup berburu di dalam laut. Ikan berahang mulai muncul pada zaman ini dan
banyak ikan mempunyai perisai tulang sebagai pelindung.
Selama zaman Silur, deretan pegunungan mulai terbentuk melintasi Skandinavia, Skotlandia dan Pantai Amerika Utara
Jaman Devon (410-360 juta tahun lalu)
devon.jpgZaman Devon merupakan zaman perkembangan besar-besaran jenis ikan dan tumbuhan darat. Ikan berahang dan ikan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di dalam lautan. Serbuan ke daratan masih terus berlanjut selama zaman ini. Hewan Amfibi berkembang dan beranjak menuju daratan.
Tumbuhan darat semakin umum dan muncul serangga untuk pertama kalinya.
Samudera menyempit sementara, benua Gondwana menutupi Eropa, Amerika Utara dan Tanah Hijau (Green Land).
Jaman Karbon (360 – 290 juta tahun lalu)
karbon.jpgReptilia muncul pertama kalinya dan dapat meletakkan telurnya di luar air. Serangga raksasa muncul dan ampibi meningkat dalam jumlahnya.
Pohon pertama muncul, jamur Klab, tumbuhan ferm dan paku ekor kuda tumbuh di rawa-rawa pembentuk batubara.
Pada zaman ini benua-benua di muka bumi menyatu membentuk satu masa daratan yang disebut Pangea, mengalami perubahan lingkungan untuk berbagai bentuk kehidupan. Di belahan bumi utara, iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran, rawa-rawa yang berisi dan sekarang tersimpan sebagai batubara.
Jaman Perm (290 -250 juta tahun lalu)
“Perm” adalah nama sebuah propinsi tua di dekat pegunungan Ural, Rusia.
Reptilia meningkat dan serangga modern muncul, begitu juga tumbuhan konifer dan Grikgo primitif. Hewan Ampibi menjadi kurang begitu berperan. Zaman perm diakhiri dengan kepunahan micsa dalam skala besar, Tribolit, banyak koral dan ikan menjadi punah.
Benua Pangea bergabung bersama dan bergerak sebagai satu massa daratan, Lapisan es menutup Amerika Selatan, Antartika, Australia dan Afrika, membendung air dan menurunkan muka air laut. Iklim yang kering dengan kondisi gurun pasir mulai terbentuk di bagian utara bumi.
Jaman Trias (250-210 juta tahun lalu)
Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi umum. Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kalinya selama zaman ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut Cynodont mulai berkembang. Mamalia pertamapun mulai muncul saat ini. Dan ada banyak jenis reptilia yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan sikada mirip palem berkembang dan Konifer menyebar.
Benua Pangea bergerak ke utara dan gurun terbentuk. Lembaran es di bagian selatan mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea.

Jaman Jura (210-140 juta tahun lalu)
jura.jpg
Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan danPterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang luar biasa. Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya berkembang.
Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola melimpah pada waktu ini.
Pangea terpecah dimana Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia.
Jaman ini merupakan jaman yang paling menarik anak-anak setelah difilmkannya Jurrasic Park.
Jaman Kapur (140-65 juta tahun lalu)
cretaceous.jpgBanyak dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini.
Mamalia berari-ari muncul pertama kalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus, Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan.
Iklim sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia.
Jaman ini adalah jaman akhir dari kehidupan biantang-binatang raksasa.
Zaman Tersier (65 – 1,7 juta tahun lalu)
Pada zaman tersier terjadi perkembangan jenis kehidupan seperti munculnya primata dan burung tak bergigi berukuran besar yang menyerupai burung unta, sedangkan fauna laut sepert ikan, moluska dan echinodermata sangat mirip dengan fauna laut yang hidup sekarang. Tumbuhan berbunga pada zaman Tersier terus berevolusi menghasilkan banyak variasi tumbuhan, seperti semak belukar, tumbuhan merambat dan rumput.
Pada zaman Tersier – Kuarter, pemunculan dan kepunahan hewan dan tumbuhan saling berganti seiring dengan perubahan cuaca secara global
Zaman Kuarter (1,7 juta tahun lalu – sekarang)
Zaman Kuarter terdiri dari kala Plistosen dan Kala Holosen.
Kala Plistosen mulai sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang.
Pada Kala Plistosen paling sedikit terjadi 5 kali jaman es (jaman glasial). Pada jaman glasial sebagian besar Eropa, Amerika utara dan Asia bagian utara ditutupi es, begitu pula Pegunungan Alpen, Pegunungan Cherpatia dan Pegunungan Himalaya
Di antara 4 jaman es ini terdapat jaman Intra Glasial, dimana iklim bumi lebih hangat. Manusia purba jawa (Homo erectus yang dulu disebut Pithecanthropus erectus) muncul pada Kala Plistosen. Manusia Modern yang mempunyai peradaban baru muncul pada Kala Holosen.
Flora dan fauna yang hidup pada Kala Plistosen sangat mirip dengan flora dan fauna yang hidup sekarang.

- Copyright © Belajar IPA - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -