Popular Post

“Seimic Gap”, Lokasi rawan gempa – tsunami.

By : Rifalafka


SEISMIC GAP adalah jalur “sepi” gempa dimana saat ini daerah yang dimaksud tersebut justru tidak terdapat gempa selama ini. Bandingkan disebelah-menyebelahnya, dimana di tempat itu tenaga gempa sudah dilepaskan pada saat terjadinya gempa beberapa tahun atau puluh tahun lalu.
Jalur yang menjadi pusat gempa salah satunya jalur subduksi atau jalur tubrukan seperti dibawah ini.
Zona GempaSelama 10 tahun sejak 2005-2015 daerah ini menjadi pusat gempa seperti yang terlihat sebelumnya disini. Dimana terlihat bahwa gempa-gempa besar diatas skala 6 terjadi di banyak tempat sepanjang jalur selatan Sumatera-Jawa, juga di palung Jepang.
imageSepertinya memang selalu ada gempa di sepanjang jalur ini. Namun seorang ahli kegempaan akan mengetahui bahwa tidak disepanjang jalur ini telah terjadi gempa. Pada periode dan masa-masa tertentu ada daerah yang sepi gempa. Daerah yang sepi gempa inilah yang disebut SEISMIC GAP !
Seismic Gap PadangTentunya kita hanya dapat menghimbau kepada pemerintah dan masyarakat untuk bisa memahami dan mengantisipasi potensi bencana gempabumi di masa datang. Dengan cara harus meneliti dan memetakan dengan sebaik-baiknya patahan-patahan aktif yang berada di darat dan di bawah laut.   Hal ini mutlak diperlukan untuk membuat peta bahaya dan risiko gempabumi.  Tanpa indentifikasi bahaya dan risiko bencana yang baik maka akan sulit untuk melakukan mitigasi bencana yang efektif, termasuk  untuk rencana tata ruang, membuat peraturan bangunan tahan gempa dan melakukan pendidikan masyarakat tentang bahaya gempa di wilayah yang bersangkutan.
:( “Pakdhe, jadi bener donk ramalan bakalan akan ada gempa bumi di Jawa Barat ?”
:D “Owalah Thole, lah kalau cuman bilang gitu, aku ya bisa saja bilang, besok akan ada gempa kekuatan diatas 8 di sekitar Indonesia. Posisi dan kapan terjadinya masih belum diketahui dengan pasti!”
:( “Lah semua kejadian gempa kan begitu Pakdhe ? Ndak bisa diketahui kapan terjadinya”
:D “Gempa memang bisa diramalkan lokasinya dan besarnya kekuatannya secara kasar, tetapi waktunya ndak bakalan diketahui dengan pasti. Jadi ndak usah panik tetapi tetap WASPADA“
Bila kita tahu daerah rawan gempa (seismic gap) nya adanya di laut, tentunya harus waspada pada tsunaminya juga. Sedangkan bila di darat tentunya goyangannya harus diwaspadai. Khususnya untuk didarat, zona patahan aktif juga menjadi daerah yang perlu diperhitungkan. Patahan aktif yang ‘baru saja’ bergerak adalah patahan Opak di selatan kota Jogja yang pada tahun 2006 menggoyang dan menelan korban lebih dari 5000 orang.
Jadi kalau begitu zona rawannya juga didarat di dekitar patahan aktif seperti yang digambar dibawah ini.
Gempa-3-DongengGeologiCom
Gambar diatas memperlihatkan seismic gap diselatan Jawa Barat. Tentunya masih ingat gempa tsunami Pangandaran, kan ? Itu adalah pelepasan gempa yang sebelunya juga berupa seismic gap.
:-( “Wah Pakdhe nakut-nakutin nih !”
:-D “Selalu saya beri tahu, bahwa korban kecelakaan lalu-lintas itu lebih banyak ketimbang gempa. Jadi hato-hatilah dijalan raya, Thole !”

Animasi Perjalanan Benua India Menubruk Eurasia

By : Rifalafka


CrossSectionHimalayaPenubrukan Benua India ke Eurasia yang menyebabkan pembentukan Himalaya ini menjadi penyebab utama gempa-gempa disepanjang pegunungan teritinggi didunia ini. Perjalanan India sebenarnya cukup jauh. Karena Benua India terbentuk ketika India masih berada di Selatan Katulistiwa. Bahkan mungkin mendekati kutub selatan saat itu.
:-( “Walah Pakdhe, India bisa-bisanya berada di selatan kemudian keutara sampai nabrak Aurasia. Dulu sempat muter-muteri tiang juga ya, kayak penari India itu ?”
:-D “Emangnya Kutchi-Kutchi Hotahe ?”
Perjalanan India ini telah digambarkan dalam animasi menarik oleh seorang ahli tektonik Asia Tenggara bernama Robert Hall, yang mengepalai grup riset di Inggris. Animasi itu digambarkan seperti dibawah ini.
Pada awalnya India merupakan bagian adri benua Gondwana disebelah selatan Katulistiwa. Benua India mulai terbuka dan terpisah dari Australia Sejak Akhir Jura menabrak Asia pada jaman Cretaceous. Tubrukan (collision) terjadi sejak 110–90 Ma dan menunjam dibawah Sundaland terhenti sejak 45 Juta tahun yang lalu. India dan Australia terpisah sejak  90–75 juta tahun lalu. Subduction atau penunjaman terus terjadi hingga 45 Juta tahun lalu saat Benua Australia bergerak keutara. Hingga saat ini diselatan Jawa dan Sumatra masih terjadi subduksi, sedangkan di utara India terjadi tubrukan (collision) membentuk Himalaya.
TatananTektonikAsia
:-( “Pakde, itu sepertinya zona tubrukan di Himalaya kok menerus sampai di Zona Subduksi di Selatan SUmatera-Jawa. Apakah gempanya bisa merembet ?”
:-D “Yang penting selalu waspada, Thole”
Perjalanan Benua India ini meninggalkan jejak dimana jejak-jejak ini beruba garis memanjang yang juga menjadi pusat gempa, bahkan terjadi gempa menarik yang pernah terjadi di selatan Aceh pada 11 januari 2012 dan 11 April 2012. Kedua gempa ini pada tempat yang berdekatan namun arah bergeraknya berkebalikan seperti gerakan kaki mau kir-kanan bergantian.
ninetyeastridge[1]

Legenda Kraken - Sang penguasa lautan

By : Rifalafka

Legenda Kraken - Sang penguasa lautan


Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.


Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata "Krake" dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.

Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.

Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam bukuSystema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken "tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal".

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Seberapa besarkan seekor cumi atau gurita bisa bertumbuh?

Benarkan mereka bisa menyerang sebuah kapal besar seperti yang digambarkan di film-film?

Penampakan Signifikan
Pada tahun 1801, Pierre Denys de Montfort yang menyelidiki subjek mengenai Kraken menemukan kalau di Kapel St.Thomas di St.Malo, Brittany, Perancis, ada sebuah lukisan yang menggambarkan seekor gurita raksasasedang menyerang sebuah kapal dengan cara menggulungnya dengan tentakelnya. Insiden yang tergambar dalam lukisan tersebut ternyata berdasarkan pada peristiwa nyata.

Dikisahkan kalau kapal tersebut adalah kapal Norwegia yang sedang berada di lepas pantai Angola. Ketika mendapatkan serangan tak terduga tersebut, para pelaut di atas kapal lalu membuat sebuah kaul untuk St.Thomas yaitu jika mereka dapat terlepas dari bahaya ini, mereka akan melakukan perjalanan ziarah.

Para awak kapal kemudian mengambil kapak dan mulai melawan monster itu dengan memotong tentakel-tentakelnya. Monster itupun pergi. Sebagai pemenuhan atas kaul itu, para awak kemudian mengunjungi Kapel St.Thomas di Britanny dan menggantung lukisan itu sebagai ilustrasi atas peristiwa yang menimpa mereka.

Sayangnya, peristiwa yang menimpa para pelaut itu tidak diketahui persis tahun terjadinya. Namun, paling tidak, penyerangan monster raksasa terhadap sebuah kapal tidak bisa dibilang sebagai mitos semata.

Selain kisah lukisan di Kapel St.Thomas, Mr.Monfort juga menceritakan perjumpaan lain dengan makhluk serupa cumi atau gurita raksasa yang dialami oleh kapten Jean-Magnus Dens dari Denmark yang bertemu dengan makhluk itu juga di lepas pantai Angola. Makhluk raksasa itu menyerang kapal mereka dan bahkan berhasil membunuh tiga awaknya.

Para awak kapal yang lain tidak tinggal diam dan segera mengambil meriam dan menembakkannya ke monster itu berulang-ulang hingga ia menghilang ke dalam lautan.

Kapten Dens memperkirakan monster itu memiliki panjang 11 meter.

Kisah lain terjadi pada tanggal 30 November 1861. Ketika sedang berlayar di kepulauan Canary, para awak kapal Perancis, Alencton, menyaksikan seekor monster laut raksasa berenang tidak jauh dari kapal. Para pelaut segera menyiapkan peluru dan mortir yang kemudian ditembakkannya ke arah monster itu.

Monster yang ketakutan dengan segera berenang menjauh. Namun, kapal Alencton segera diarahkan untuk mengejarnya. Ketika mereka berhasil mendekatinya, garpu-garpu besi segera dihujamkan ke tubuh monster itu dan jaring segera dilemparkan. Ketika para awak mengangkat jaring itu, tubuh monster itu patah dan hancur yang kemudian segera jatuh ke dalam air dengan menyisakan hanya sebagian dari tentakelnya.

Ketika kapal itu mendarat dan tentakel itu diperlihatkan kepada komunitas ilmuwan, mereka sepakat kalau para awak kapal mungkin telah menyaksikan seekor cumi raksasa dengan panjang sekitar 8 meter.

Pada bulan Oktober 1873, seorang nelayan bernama Theophile Piccot dan anaknya berhasil menemukan tentakel cumi raksasa di Newfoundland. Setelah diukur, para peneliti menyimpulkan kalau hewan itu kemungkinan memiliki panjang hingga 11 meter.

Pada tahun 1924, Frank T.Bullen menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Cruise of the Chacalot. Dalam buku ini, Bullen menceritakan sebuah kisah luar biasa yang disebut terjadi pada tahun 1875. Kisah ini membuat Kraken mendapatkan musuh abadinya, yaitu Paus Penyembur (Sperm Whale).

Menurut Bullen, pada tahun 1875 ia sedang berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di selat Malaka. Ketika malam bulan purnama, ia melihat ada sebuah riakan besar di air.
"Ada gerakan besar di dalam laut saat purnama. Aku meraih teropong malam yang selalu siap di gantungannya. Aku melihat seekor paus penyembur besar sedang terlibat perang hebat dengan seekor cumi-cumi yang memiliki tubuh hampir sebesar paus itu. Kepala paus itu terlihat lincah seperti tangan saja layaknya. Paus itu terlihat sedang menggigit tentakel cumi itu dengan sistematis. Di samping kepalanya yang hitam, juga terlihat kepala cumi yang besar. Mengerikan, aku tidak pernah membayangkan ada cumi dengan kepala sebesar itu."
Mendengar kesaksian Bullen, kita mungkin tergoda untuk mengatakan kalau ia membesar-besarkan atau mungkin mengarangnya saja. Namun, pada Oktober 2009, komunitas ilmuwan menyadari kalau kisah yang diceritakan Bullen mungkin memang bukan sekedar cerita fiksi. Cumi raksasa memang bermusuhan dengan Paus Penyembur.

Di wilayah perairan di pulau Bonin di Jepang, para peneliti kelautan berhasil mendapatkan foto-foto langka yang memperlihatkan seekor paus penyembur sedang menyantap seekor cumi raksasa yang diperkirakan memiliki panjang 9 meter.


Dendam lama tidak pernah berakhir.

Giant Squid, Colossal Squid dan Giant Octopus
Sekarang, mari kita sedikit mengenal lebih jauh tiga teman raksasa kita yang mungkin telah memicu legenda Kraken. Saya akan mulai dari Giant Squid atau Cumi raksasa.

Giant Squid atau Cumi-cumi raksasa
Giant Squid atau cumi-cumi raksasa yang berasal dari genus Architeuthis ini memiliki 8 spesies dan diketahui bisa memiliki panjang hingga 13 meter bagi yang betina dan 10 meter untuk yang jantan. Ukuran ini dihitung dari sirip caudal hingga ujung tentakelnya. Namun, ukuran cumi ini bisa jadi lebih besar daripada yang diperkirakan.

Pada tahun 1880, potongan tentakel ditemukan di Selandia Baru dan diperkirakan merupakan milik dari cumi raksasa yang memiliki panjang 18 meter. Ukuran yang sangat luar biasa!


Ide kalau seekor cumi raksasa bisa menenggelamkan sebuah kapal mungkin terdengar mengada-ngada pada zaman ini. Namun, pada abad pertengahan, ukuran kapal tidak sebesar yang kita miliki sekarang. Contohnya, kapal Columbus yang bernama Pinta hanya memiliki panjang 18 meter. Sebuah cumi sepanjang 10-15 meter sudah bisa dipastikan dapat menyerang dan menenggelamkan kapal ini dengan mudah.


Perilaku giant Squid ini hampir tidak pernah dikenal sebelumnya hingga pada tahun 2004 ketika para ilmuwan Jepang berhasil mendapatkan 556 foto makhluk ini dalam keadaan hidup. Cumi-cumi tersebut terperangkap dalam sebuah jebakan yang dibuat. Ketika ia berhasil lolos, salah satu tentakelnya yang memiliki panjang 5,5 meter putus. Dari panjang ini, para ilmuwan tersebut memperkirakan kalau makhluk itu memiliki panjang 8 meter.

Colossal Squid atau Cumi Kolosal
Apabila kita mengira Cumi raksasa sudah memiliki ukuran yang luar biasa, maka, perkenalkan makhluk yang satu ini, Colossal Squid atau Cumi kolosal.

Makhluk ini memiliki nama latin Mesonychoteuthis hamiltoni dan para ilmuwan percaya kalau makhluk ini bisa bertumbuh hingga paling tidak memiliki panjang 14 meter. Ini membuatnya menjadi hewan invertebrata terpanjang di dunia. Walaupun demikian, para ilmuwan tidak bisa memastikan hingga seberapa panjang hewan ini bisa bertumbuh.

Mengenai Colossal Squid, Dr.Steve O'Shea, ahli cumi dari Auckland University berkata:
"Sekarang kita tahu kalau makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding Giant Squid. Giant Squid bukan lagi cumi terbesar di luar sana. Sekarang kita memiliki sesuatu yang lebih besar. Bahkan bukan cuma sekedar besar, tetapi benar-benar jauh lebih besar."


Colossal Squid di foto di atas ditangkap di Laut Ross dan memiliki panjang mantel 2,5 meter. Ukuran ini termasuk luar biasa karena Giant Squid terbesar yang diketahui hanya memiliki panjang mantel 2,25 meter. Lagipula, Colossal Squid di atas dipercaya masih dapat bertambah panjang hingga mencapai ukuran yang jauh lebih besar.

Jika ada Kraken di luar sana, maka bisa dipastikan kalau Colossal Squid adalah tersangka paling utamanya.

Lalu, apa bedanya Giant Squid dan Colossal Squid?

Giant Squid hanya memiliki tentakel yang memiliki lubang penghisap dan gigi-gigi kecil, sedangkan Colossal Squid memiliki tentakel yang juga dilengkapi dengan kait yang tajam. Beberapa kait bahkan memiliki 3 ujung.

Selain dua jenis Cumi-cumi di atas, makhluk yang satu ini juga memiliki tentakel dan bisa bertumbuh dalam ukuran yang luar biasa, yaitu Giant Octopus.

Giant Octopus atau Gurita Raksasa
Giant Octopus atau gurita raksasa bisa bertumbuh hingga memiliki panjang 9 meter. Panjang ini cukup membuatnya menjadi monster yang ditakuti oleh para pelaut. Makhluk inilah yang dipercaya Monfort sebagai monster yang menyerang para pelaut Norwegia di lepas pantai Angola yang lukisannya tergantung di Kapel St.Thomas.
Bangkai ini terdampar di pantai St.Augustine, Florida tahun 1896. Dipercaya sebagai Giant Octopus


Pada masa kini, teori mengenai Cumi atau Gurita raksasa dianggap sebagai penjelasan yang paling masuk akal mengenai legenda Kraken.

Jika kita beranggapan kalau legenda Eropa yang mengatakan kalau Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau sebagai "membesar-besarkan", maka mungkin misteri Kraken memang sudah terpecahkan.

Tetapi, bagaimana kita bisa memastikannya?

Gempa Yogya 27 May 2006

By : Rifalafka


gempa-jogja-1.jpgGempa bumi yang mengguncang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu pagi sekitar pukul 05.54 WIB yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa sangat mungkin disebabkan oleh aktivitas patahan/sesar aktif di daerah bagian selatan Yogyakarta berarah barat daya-timur laut.
Tiga seri data dicoba diplot kedalam peta Google Earth. Satu data dari USGS (United States Geological Survey, http://earthquake.usgs.gov/), dan satu seri data dari BMG (badan Meteorologi dan Geofisika http://geof.bmg.go.id/gempaterkini.jsp). serta data dari EMSC (European-Mediterranean Seismological Centre) , sebuah badan penelaah kegempaan di Eropa.
USGS menduga kekuatan gempa sebesar 6.3 Skala Richter dan sumber gempa tersebut berada di darat di dekat muara Sungai Opak (gambar 1). Kedalaman gempa ini sangat dangkal, diperkirakan hanya 10Km, sehingga efek atau daya rusaknya sangat besar hingga mencapai sekitar 6-7 MMI. Gempa susulan menurut USGS berada sebelah timur laut dari gempa utama. Gempa susulan berada di sekitar Pathuk, sekitar jalan menuju Wonosari kalau dari Yogyakarta.
gempa-jogja-2.jpgHasil perhitungan BMG menunjukkan gempa berada 25 km sebelah selatan Pantai Parangtritis. Kedalam gempa diperkirakan BMG 33 Km, dengan gempa susulan bergerak kearah timur. menurut BMG telah terjadi getaran lebih dari 300 kali pada tanggal 27 Mei 2006 selama sehari, namun hanya 4-5 saja yg dirasakan getarannya (diatas 4 SR). Perkiraan lokasi ke empat gempa tersebut (dari hasil BMG) menunjukkan kemungkinan gempa tersebut adalah akibat subduksi antara Kerak Benua Asia yang bertubrukan dengan Kerak Samodra Australia. Perbedaan pengukuran ini sering terjadi, bahkan juga dengan lembaga pengukur gempa lain yg juga berbeda dengan USGS, misalnya EMSC (European-Mediterranean Seismological Centre) yg menduga pusat gempa berasa diselatan Klaten (lihat gambar 1).
Kalau memang dugaan lokasi pusat gempa versi USGS ini benar, maka perlu diperhatikan pergerakan gempa susulan ini sepanjang sesar aktif tersebut. Saya belum tahu sepanjang mana sesar aktif ini memanjang ke arah Timur Laut.
Saya teringat dahulu sewaktu masih kuliah ada peneliti yg akan mengukur pergeseran sesar ini dengan GPS waktu itu (akhir 80an). Tetapi tentunya GPS belum secanggih saat ini. Pergerakan sesar saat itu tidak terdeteksi, karena mungkin keakurasian dan presisi alat GPS yg masih belum sebaik saat ini. Sepertinya tidak ada yg pernah publikasi khusus yang menduga sesar ini akan aktif dengan keaktifan sebesar ini.
gempa-jogja-3.jpgSaya tidak tahu bagaimana hubungan dengan G Merapi. Kejadian gempa berbeda dengan aktifitas Gunung Api yag akan menunjukkan gejala-gejala sebelum meletus. Tanda-tanda akan meletusnya gunung api misalnya aktifitas kimiawi gas-gas yg keluar, berubahnya ukuran atau ketinggian dome (kuba) serta gempa-gempa kecil yg dapat dideteksi sebelum benar-benar meletus. Sedangkan gempa merupakan sebuah gejala mendadak akibat “elastic rebound” (proses lentingan) seperti karet yg dilepaskan. Proses gempa dengan mekanisme “elastic rebound” ini akan sangat peka terhadap “trigger-trigger” (pemicu) yang ringan. Getaran-getaran aktifitas Gunung Berapi memang mungkin saja mempengaruhi terjadinya gempa-gempa tektonik yang secara bolak-balik akan saling mempengaruhi.
Mewaspadai gempa susulan.
Gempa susulan selalu terjadi setelah gempa utama terjadi. Gempa susulan ini masih akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. Gempa-gempa susulan ini cenderung berkekuatan lebih kecil, namun lebih membahayakan efeknya. Walaupun kekuatannya kecil, karena kondisi bangunan sebagian besar sudah rapuh, maka goyangan yg kecil akan memberikan daya rusak yg hebat. Masih perlu diwaspadai dalam beberapahari mendatang. Gempa besar di Aceh akhir tahun 2004 lalu masih memberikan gempa susulan hingga beberapa bulan berikutnya dengan kekuatan yg cenderung menurun.
Tidak ada Tsunami.
Dari tiga institusi (USGS, BMG dan EMSC) hanya BMG yg memperkirakan terjadinya pusat gempa di laut. Gempa kali ini diperkirakan oleh USGS berupa gempa akibat pergeseran lateral (mendatar) bukan akibat tumbukan yg mengakibatkan dislokasi vertikal yg sering menyebabkan tsunami. Dengan demikian tidak perlu dikhawatirkan timbulnya tsunami untuk gempa kali ini. Gempa susulannya tidak akan lebih besar dari gempa utama yg sudah terjad

Gempa ringan mengikuti aktivitas G. Merapi 7 November 2010

By : Rifalafka


Pak Surono Kembali melaporkan kegiatan Merapi Selama 24 Jam pada tanggal 7 Nov 2010. Hasil Pengamatan visual G. Merapi dari Bogem, melaporkan bahwa lava pijar mengalir ke Baratdaya dengan jarak luncur 600 m (Kali Gendol, K. Boyong, dan K. Bebeng). Dari Ketep, dilaporkan terdengar suara gemuruh sangat kuat selama 7 menit. Pada pukul 23:08 WIB, terjadi gempa tektonik berkekuatan 3,8 SR dengan sumber gempa berada di Kab. Wonosari (Baratdaya Tenggara G.Merapi) bekedalaman 10 km. Kolom asap nampak tinggi dan pekat dengan condong ke Baratdaya.
:( “Wah Pakdhe, ada gempa juga ya ?”
:D “Smoga saja gempa tektoniknya kecil saja Thole”

Masih dalam radius diatas 20Km

Menurut Pak Surono, berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 7 November 2010 mulai pukul 18:00 WIB sampai dengan pukul 24:00 WIB menunjukkan aktivitas G. Merapi pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya G. Merapi dapat berupa awanpanas dan lahar.
Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi masih tetap berlaku.
Masih tetap disarankan untuk tidak melakukan aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di G. Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.
Juga diharapkan segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi.

Gempa di selatan Jogja adakah hubungan dengan Merapi ?

By : Rifalafka


Di Jogjakarta telah terjadi Gempa pada hari Selasa (9/11/2010), gempa yang terjadi sekitar pukul 14.03 WIB dirasakan berdurasi waktu guncangan berkisar 3-5 detik. Kekuatan gempa ini menurut USGS sebesar 5.4M, sedangkan menurut BMKG gempa ini berkekuatan 5.6SR dengan kedalaman 10 Km di laut.
sumber usgs
Pusat gempa ini berlokasi di 125 Km barat daya Bantul, kedalaman gempa 10 Km.  Secara sepintas kemungkinan  ndak ada hubungan langsung dengan aktifitas Merapi. Tapi yang penting jangan lengah dan tetap waspada.

:( “Pakdhe, gempa ini menyambut kedatangan “tamu” ya ?”
:D “Hust !”
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar. juga mengatakan, “Pertanyaan ini memang banyak ditanyakan orang, apakah ada hubungannya gempa dengan aktivitas gunung berapi? Secara teori aktivitas volcano dan gempa bumi bagaimana hubungannya, sulit diterangkan,”
Memang sulit dijelaskan makanya dibawah ini dongengannya panjang.

Tektonik, gempa dan vulkanisme

Walaupun kita tahu bahwa lempeng samodera bergerak menunjam menubruk lempeng benua. Ketika menubruk tentusaja terjadi gesekan-gesekan. Akibat gesekan inilah yang diperkirakan oleh ahli geologi-vulkanologi sebagai penyebab melelehnya batuan. Batuan yang meleleh inilah yang akhirnya berusaha menerobos keatas menembus lempeng benua.
Ketika lelehan batuan ini keluar dipermukaan setelah menembus kerak (lempeng) benua, disitulah munculnya gunung api.
Secara mudah digambarkan seperti dibawah ini.
Keterangan
  • 1. Ada dua tipe dasar litosfer: kontinental dan samudera . litosfer CONTINENTAL memiliki kerapatan yang rendah karena terbuat dari mineral yang relatif ringan. Litosfer samudera lebih padat daripada litosfer kontinen karena terdiri dari mineral berat. Lempengan bumi mungkin tersusun atas sepenuhnya dari litosfer samudera atau kontinental, tetapi kebanyakan sebagian laut dan sebagian benua.
:( “Pakdhe, jadi kerak samudera ini menunjam kebawah karena beratjenisnya lebih besar ya ? Kok mirip hukum Archimides saja ya ?”
:D “Wah lama-lama pinter juga Thole ini”
  • 2. Di bawah pelat litosfer terletak astenosfer, lapisan mantel yang terdiri dari batuan semi-padat lebih padat. Karena pelat ini kurang padat dari astenosfer di bawah mereka, mereka mengapung di atas astenosfer.
  • 3. Jauh di dalam astenosfer tekanan dan temperaturnya sangat tinggi sehingga dapat melunakkan batu dan bahkan sebagian meleleh. Batuan yang melunak tapi padat dapat mengalir sangat lambat (secepat gerakan pertumbuhan kuku) dari waktu ke waktu geologi. Ketika terdapat ketidakstabilan suhu yang ada ada di dekat inti / batas mantel maka pelat ini akan bergerak perlahan-lahan mengikuti arus konveksi bisa terbentuk dalam astenosfer yang semi-padat.
  • 4. Setelah terbentuk, arus konveksi membawa material panas dari lebih dalam mantel ke arah permukaan. Ini prosesnya mirip proses menjerang air. Air ketika dimasak maka yang dibawah akan naik keatas, sedangkan yang diatas akan turun kebawah.
  • 5. Ketika mereka mengapung dan mendekati permukaan, arus konveksi menyimpang di dasar lithosfer. Arus menyimpang mengerahkan ketegangan lemah atau “tarik” pada pelat padat di atasnya. Ketegangan dan aliran panas tinggi melemahkan pelat, akhirnya mengambang, dan kadangkala menyebabkan plat ini pecah. Kedua sisi pelat sekarang-terpisah kemudian pindah dari satu sama lain, membentuk BATAS PELAT berbeda.
  • Nah disinilah penjelasan mengapa plat atau kerak-kerak ini dapat terapung-apung diatas “cecair” mantel atas.
  • 6. Ruang antara pelat menyimpang diisi dengan batu cair (magma) dari bawah. Kontak dengan air laut mendinginkan magma, yang cepat membeku, membentuk litosfer samudera baru. Proses ini terus menerus, operasi selama jutaan tahun, membangun rantai gunung berapi bawah laut dan lembah celah disebut MID-OCEAN RIDGE atau Pemerkaran samudera.
  • 7. Sebagian batuan cair baru terus menerus disundul dari bawah dan berkembang menyamping pada mid-ocean ridge dan terus material dari bawah ini ditambahkan ke dalam lempeng samudera (6), bagian yang lebih tua (awal terbentuk) dari plat bergerak menjauh dari punggungan dima awalnya diciptakan. Itulah sebabnya plat yang memiliki densitas tinggi ini menunjam masuk ke dalam ketika bertemu dengan kerak (plat) benua.
  • 8. Sebagian lempeng samudera bergerak lebih jauh dan jauh dari punggunan tengah samudera, aktif menyebarkan panas, secara bertahap mendingin.  Akhirnya, tepi pelat yang terjauh dari punggung penyebaran mendingin begitu banyak sehingga menjadi lebih padat daripada astenosfer di bawahnya.
  • 9. Seperti yang Anda tahu, bahan padat akan tenggelam, dan itulah apa yang terjadi pada kerak atau plat samudera. Akhirnya ketika bertubrukan mulai tenggelam masuk dibawah astenosfer! Dimana tunjaman pelat ini membentuk sebuah zona subduksi.
  • Zona subduksi ini ketika bergesekan menyebabkan gempa. Terutama gempa-gempa laut.
  • 10. Karena tenggelam dibagian tepi lempeng samudera akhirnya seolah-olah  “menarik” sisa dari pelat belakangnya ini juga akibat adanya diringan dari pemekaran samodera yang berujung pada daerah subduksi. Hingga saat ini Geolog masih belum tahu dan tidak yakin seberapa dalam tunjaman lempeng samudera sebelum mulai mencair dan kehilangan identitasnya sebagai pelat, tetapi geolog tahu bahwa plat tetap solid jauh melebihi kedalaman 100 km di bawah permukaan bumi.
:( “Pakdhe, kok tahu masih ada sampai 100Km darimana ? Jangan ngarang looh !”
:D “Wah kowe iki. Ya tahu karena kita masih mendapatkan gempa-gempa yang sangat dalam lebih dari 100 Km yang diperkirakan adanya pelat yang masih kaku yang menyebabkan gempa sangat dalam dibawah 100 Km.”
Ini versi DongengGeologidotCom
  • 11. Zona subduksi adalah salah satu jenis konvergen BATAS PELAT, jenis batas lempeng yang membentuk di mana dua lempeng bergerak menuju satu sama lain. Perhatikan bahwa meskipun lempeng samudera dingin yang tenggelam, lempeng kontinental tapi kurang padat mengapung seperti gabus di atas astenosfer lebih padat. (lihat ilustrasi disamping kanan atas itu)
  • 12. Ketika tenggelam subduksi lempeng samudera jauh di bawah permukaan bumi, suhu besar dan tekanan pada kedalaman menyebabkan cairan untuk “keringat” dari piring tenggelam. Cairan berkeringat keluar meresap ke atas, membantu mencairkan lokal solid mantel atasnya di atas plat mensubduksi untuk membentuk kantong batuan cair (magma).
  • 13. Nah batuan cair baru dihasilkan mantel (magma) adalah batuan kurang padat (densitasnya atau berat jenisnya lebih kecil) dari batuan sekitarnya, sehingga naik ke permukaan. Sebagian besar magma mendingin dan mengeras sebagai badan besar plutonik (intrusif) batuan jauh di bawah permukaan bumi. Material cair magma yang cukup besar,  akan membentuk dapur magma yang menyebabkan terbentuknya gunungapi.
  • gempapemicu.jpg14. Beberapa batuan cair dapat mencapai permukaan bumi meletus sebagai tekanan gas terpendam di magma tiba-tiba dilepaskan, membentuk vulkanik (ekstrusif) batuan. Seiring waktu, lava dan abu meletus setiap kali magma mencapai permukaan akan terakumulasi-berlapis-lapis-untuk membangun pegunungan berapi dan dataran tinggi, seperti pegunungan di busur vulkanik jawa hingga sumatera.

Gempa tektonik dan gunungapi genesa penyebabnya sama

Jadi kita lihat bahwa gempa dan gunungapi itu sama-sama disebabkan oleh aktifitas tektonik. Tetapi jelas tidak mudah mengatakan bahwa kalau ada gempa akan ada aktifitas gunungapi. Keduanya memang sama-sama disebebkan oleh satu hal yang sama, tetapi keduanya tidak selalu saling mempengaruhi secara langsung.
Apakah selalu aktifitas core sebagai penyebabnya, sebenarnya kita juga sama-sama berspekulasi dan tidak tahu. Yang bisa tahu adalah adanya aktifitas dibawah sana yg menyebabkan dua hal yang berbeda.
:D “Secara intuitif sakjane geologist tahu bahwa gempa tektonik dan gunung api disebabkan oleh pergerakan plate. Artinya keduanya memiliki ibu yang sama. Hanya saja yang satu anaknya jadi insinyur yang satu anaknya jadi dokter. 
Lah kalao dokternya sedang bersin apa ya si insinyurnya terus jadi batuk-batuk ? …
:( “Bisa saja kalau sedang musim flu, Pakdhe ?”
:D “Selama ini geosaintis belum menemukan ilmu musim gempa atau musim gunung batuk thole. Kalau dugaanmu itu bener berarti kebetulan, kalau salah gimana ?”
Adakah artikel ilmiah khusus membicarakan hal itu.

Hubungan Vulkanisme dan Gempa – 1

By : Rifalafka


Menjelaskan hubungan gempa dengan vulkanisme merupakan tantangan menarik. Terutama dalam menjelaskan hubungan temporal dan hubungan kausal. Hubungan temporal (temporal relation) adalah hubungan karena kesamaan waktu kejadiannya. Sedangkan hubungan kausal (causal relation) adalah hubungan sebab akibat.
Secara mudah dapat dipakai analogi kejadian “memanaskan air menyebabkan air mendidih”. Ini adalah kejadian kausal. Walaupun kita mendapatkan foto air mendidih secara logika kita tahu bahwa mendidihnya air karena adanya panas api kompor dibawahnya. Dan dengan menggunakan ilmu fisika dasar di SD pun kita mampu menjelaskan dengan mudah. Yang pasti bukan karena air mendidih menyebabkan adanya api dikompor, kan ?
:( “Asyiik, Pakdhe masak nih. Buatin teh ginasthel donk !” :p
Namun tidak demikian kalau kita melihat gejala gempa dan erupsi gunungapi. Karena keduanya tidak secara mudah disimpulkan sebagai sebab akibat.
Dibawah ini sedikit cara menjelaskan mengapa menghubungkan keduanya tidak sesederhana seperti kejadian memasak air .

Hubungan antara Tektonik, Gempa dan Vulkanik secara grafis.
Tentunya cerita bagaimana tektonik mampu menyebabkan terjadinya gempa dan membentuk gunungapi sudah dimengerti. Proses ini terjadi tidak dalam masa hidup manusia yang hanya puluhan tahun. Tetapi ini sudah terjadi jutaan tahun yang lalu. Ya sudah terjadi jutaan bahkan milyar tahun lalu sejak bumi terbentuk.

Data dan fakta yang kita lihat sesuai dengan pemahaman keterkaitan ketiganya. Dalam garis waktu memperlihatkan kejadiannya terlihat acak dan tidak berhubungan.
Catatan kejadian merupakan data dan fakta dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi ini. Sejarawan (arkeolog) mencatat kejadian sejak manusia mampu menulis. Antropolog mencatat sejak adanya manusia, sedangkan ahli geologi mencatat kejadian berdasarkan batuan-batuan yang ada.
Interpretasi 1. Gempa menyebabkan erupsi, namun seringkali ada gempa besar yg tidak diserta erupsi dalam waktu yang bersamaan.. uspt !

Interpretasi 1.

Gempa menyebabkan atau memicu terjadinya erupsi gunungapi. Memang sangat logis kalau kita melihat sesuatu benda bertekanan bila digetarkan maka akan meletup. Gempa adalah getaran dan erupsi adalah hasil dari getaran gempa. Namun tidak selalu terjadi. Sehungga tingkat korelsinyapun tidak akan pernah 100%. Walaupun tidak disangkal bahwa temporal relation ini terbaca, terlihat dan sesuai data maupun pengalaman.
Interpretasi 2. Erupsi menyebabkan gempa. Sama saja ada bolong-bolong ditengahnya. Apakah ada data terlewat ?

Interpretasi 2

Gunungapi ketika erupsi menunjukkan adanya aktifitas magma. Ya tentusaja setiap gunung erupsi itu adalah manifestasi dari aktifitas magma yang memiliki tekanan ingin keluar. Tekanan magma ini tentusaja akan mempengaruhi tempat-tempat serta batuan yang sedang mengalami stress.
:( “Wah batuan juga bisa stress kalau ditekan ya, Pakdhe. Kok mirip aku kalau ditekan pak guru mau ujian selalu stress. Trus gimana cara melepaskan stress, Pakdhe?”
:D “Kalau batuan melepas stress dengan gempa, kalau manusia ya bisa bludreg, marah-marah”
Ketika tekanan magma turun akibat erupsi, tentusaja tekanan ini mampu memicu gempa juga. Nah proses itu bisa berjalan bolak-balik dan dinamis. Tidak selalu terjadi satu arah saja tetapi masih dalam waktu yang sanat berdekatan.
Gempa hari menyebabkan erupsi besok pagi, atau erupsi kemarin menyebabkan gempa gempa nanti sore. Ini yang paling sering dipikirkan si Thole saat ini karena masa pengamatan manusia hanyalah berdasarkan memori pendeknya saja. Pengamatan individu paling hanya berselang setahun atau paling banter seratus tahun kalau melihat dan belajar sejarah.

Interpretasi 3. Adanya selang waktu antara gempa dan erupsi vulkanisme. Tapi berapa selang waktunya ? dan apakah bukan sebaliknya erupsi yang memicu gempa ?

Interpretasi 3

Geologi memiliki jangkauan pengamatan jutaan tahun. Batuan-lah yang menjadi catatan sejarah yang dibaca para geologist. Juga geologist sudah terbiasa berpikir dalam empat dimensi ruang-waktu yang sangat panjang dan luas. Namun juga tidak mungkin geologist serta merta memikirkan hal ini.
Ingat proses ini sudah terjadi sejak jutaan tahun lalu. Namun teori plate tektonik saja baru ketemukan 50 tahun yang lalu. Bahkan pencatatan detil dari gempa di dunia (lokasi serta magnitude) baru dimulai secara seragam baru dimulai tahun 1960. Tentusaja geologist tidak mudah menghubungkan catatan sejarah yang tertulis dengan catatan batuan.
:( “Pakdhe, konon Pak Danny, ahli kegempaan Indonesia pernah membuka catatan gempa dari tumbuhkan koral ya ?”
:D “Itu merupakan catatan tambahan yg dicari Pak Danny untuk melihat kejadian gempa besar dua ratus sampai ratusan tahun lalu di Sumatera. Nanti didongengkan selanjutnya ya”

Frekuensi serta magnitude terjadi nya gempa sangat jauh berbeda dengan frekuensi terjadinya gunung api. Sedangkan proses gerakan tektonik menerus dengan intensitas berubah.
Frekuensi serta magnitude terjadi nya gempa sangat jauh berbeda dengan frekuensi terjadinya gunung api. Sedangkan proses gerakan tektonik menerus dengan intensitas berubah.
Memang bener catatan yang kita miliki tidak semuanya sama dimensi serta jangkauannya. Berdasarkan frekuensi terjadinya saja sangat berbeda. Gempa dengan kekuatan diatas 5M di Indonesia saja terjadi 5 kali setiap tahu, Sedangkan gunungapi erupsinya antara 5-10-15 tahun bahkan bisa ada yang ratusan tahun baru erupsi lagi.
Jadi dengan temporal relation (hubungan kesamaan waktu) saja tidak mudah menghubungkan gempa satu dengan gempa lainnya, maupun gempa dengan erupsi. Apalagi catatan sejarah antropolog baru dimulai ratusan tahun lalu, catatan arkeolog mungkin ratusan ribuan tahun, sedangkan geologi dan vulkanologi memiliki catatan jutaan tahun lalu. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Hanya saja tidak semudah mencampur sayur menjadi gado-gado.
:( “Wah kalau begitu staff khusus yang katanya sudah mengatakan hubungan gempa nikobar dengan gempa Sumatera itu ngawur ya, Pakdhe?”
:D “Ya dia kan staf khusus bukan staff ahli kegempaan thole. Ucapannya dianggep lutju-lutjuan aja deh. Perlu diajari bahwa pendekatan ilmiah itu bukan hanya dengan sreadsheet dan catatan kulian saja” :P

- Copyright © Belajar IPA - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -