Popular Post

Posted by : Rifalafka Rabu, 06 Mei 2015


gempa-jogja-1.jpgGempa bumi yang mengguncang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu pagi sekitar pukul 05.54 WIB yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa sangat mungkin disebabkan oleh aktivitas patahan/sesar aktif di daerah bagian selatan Yogyakarta berarah barat daya-timur laut.
Tiga seri data dicoba diplot kedalam peta Google Earth. Satu data dari USGS (United States Geological Survey, http://earthquake.usgs.gov/), dan satu seri data dari BMG (badan Meteorologi dan Geofisika http://geof.bmg.go.id/gempaterkini.jsp). serta data dari EMSC (European-Mediterranean Seismological Centre) , sebuah badan penelaah kegempaan di Eropa.
USGS menduga kekuatan gempa sebesar 6.3 Skala Richter dan sumber gempa tersebut berada di darat di dekat muara Sungai Opak (gambar 1). Kedalaman gempa ini sangat dangkal, diperkirakan hanya 10Km, sehingga efek atau daya rusaknya sangat besar hingga mencapai sekitar 6-7 MMI. Gempa susulan menurut USGS berada sebelah timur laut dari gempa utama. Gempa susulan berada di sekitar Pathuk, sekitar jalan menuju Wonosari kalau dari Yogyakarta.
gempa-jogja-2.jpgHasil perhitungan BMG menunjukkan gempa berada 25 km sebelah selatan Pantai Parangtritis. Kedalam gempa diperkirakan BMG 33 Km, dengan gempa susulan bergerak kearah timur. menurut BMG telah terjadi getaran lebih dari 300 kali pada tanggal 27 Mei 2006 selama sehari, namun hanya 4-5 saja yg dirasakan getarannya (diatas 4 SR). Perkiraan lokasi ke empat gempa tersebut (dari hasil BMG) menunjukkan kemungkinan gempa tersebut adalah akibat subduksi antara Kerak Benua Asia yang bertubrukan dengan Kerak Samodra Australia. Perbedaan pengukuran ini sering terjadi, bahkan juga dengan lembaga pengukur gempa lain yg juga berbeda dengan USGS, misalnya EMSC (European-Mediterranean Seismological Centre) yg menduga pusat gempa berasa diselatan Klaten (lihat gambar 1).
Kalau memang dugaan lokasi pusat gempa versi USGS ini benar, maka perlu diperhatikan pergerakan gempa susulan ini sepanjang sesar aktif tersebut. Saya belum tahu sepanjang mana sesar aktif ini memanjang ke arah Timur Laut.
Saya teringat dahulu sewaktu masih kuliah ada peneliti yg akan mengukur pergeseran sesar ini dengan GPS waktu itu (akhir 80an). Tetapi tentunya GPS belum secanggih saat ini. Pergerakan sesar saat itu tidak terdeteksi, karena mungkin keakurasian dan presisi alat GPS yg masih belum sebaik saat ini. Sepertinya tidak ada yg pernah publikasi khusus yang menduga sesar ini akan aktif dengan keaktifan sebesar ini.
gempa-jogja-3.jpgSaya tidak tahu bagaimana hubungan dengan G Merapi. Kejadian gempa berbeda dengan aktifitas Gunung Api yag akan menunjukkan gejala-gejala sebelum meletus. Tanda-tanda akan meletusnya gunung api misalnya aktifitas kimiawi gas-gas yg keluar, berubahnya ukuran atau ketinggian dome (kuba) serta gempa-gempa kecil yg dapat dideteksi sebelum benar-benar meletus. Sedangkan gempa merupakan sebuah gejala mendadak akibat “elastic rebound” (proses lentingan) seperti karet yg dilepaskan. Proses gempa dengan mekanisme “elastic rebound” ini akan sangat peka terhadap “trigger-trigger” (pemicu) yang ringan. Getaran-getaran aktifitas Gunung Berapi memang mungkin saja mempengaruhi terjadinya gempa-gempa tektonik yang secara bolak-balik akan saling mempengaruhi.
Mewaspadai gempa susulan.
Gempa susulan selalu terjadi setelah gempa utama terjadi. Gempa susulan ini masih akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. Gempa-gempa susulan ini cenderung berkekuatan lebih kecil, namun lebih membahayakan efeknya. Walaupun kekuatannya kecil, karena kondisi bangunan sebagian besar sudah rapuh, maka goyangan yg kecil akan memberikan daya rusak yg hebat. Masih perlu diwaspadai dalam beberapahari mendatang. Gempa besar di Aceh akhir tahun 2004 lalu masih memberikan gempa susulan hingga beberapa bulan berikutnya dengan kekuatan yg cenderung menurun.
Tidak ada Tsunami.
Dari tiga institusi (USGS, BMG dan EMSC) hanya BMG yg memperkirakan terjadinya pusat gempa di laut. Gempa kali ini diperkirakan oleh USGS berupa gempa akibat pergeseran lateral (mendatar) bukan akibat tumbukan yg mengakibatkan dislokasi vertikal yg sering menyebabkan tsunami. Dengan demikian tidak perlu dikhawatirkan timbulnya tsunami untuk gempa kali ini. Gempa susulannya tidak akan lebih besar dari gempa utama yg sudah terjad

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Belajar IPA - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -